Ketika Seorang Inovator Mengubah Kendala Menjadi Solusi Di Era Digital

Maraknya muncul aplikasi mobile di Indonesia pada saat ini tentunya dilatarbelakangi oleh beragam faktor. Tentunya sebuah perusahaan sudah mempunyai kebijakan tersendiri terhadap dikeluarkannya sebuah aplikasi mobile.

Alasan setiap perusahaan bervariatif. Ada yang bertujuan untuk meningkatkan brand image, untuk meningkatkan sales, sebagai sarana untuk promosi komunikasi dengan customer, mengembangkan loyalty program, dan sebagainya. Itu semua tergantung dari kebutuhan masing-masing perusahaan.

Waktu saya di perusahaan multinasional sebelumnya. 2 tahun silam, Kita memiliki 2 kendala, kendala pertama yaitu calon pelanggan seringkali kesulitan menemukan dimana produk dijual (karena produk kita adalah produk premium sehingga tidak dijual di sembarang toko), sehingga kami berinisiatif untuk membuat aplikasi yang memudahkan pelanggan membeli produk dengan fitur ‘near me’. Jadi pelanggan bisa menemukan toko dan service partner terdekat, bisa secara radius maupun secara manual. Kedua, kami ingin ekspansi loyalty program ke seluruh indonesia, namun terkendala oleh SDM. Sehingga kami juga melahirkan aplikasi khusus untuk loyalty program yang mana dengan aplikasi tersebut kita tetap bisa ekspansi ke seluruh indonesia tanpa harus terkendala SDM.

Jadi, Secara garis besar alasan banyaknya muncul mobile application saat ini adalah dilatarbelakangi oleh suatu titik dimana seorang inovator merubah kendala menjadi solusi di era digitalisasi saat ini. Zaman dulu, untuk menjadi pintar bahasa inggris kita harus membawa kamus kemana-mana, namun sekarang sudah ada google translate dan sebagainya. Selain itu, dulu kita harus menghubungi travel agent atau pesan by phone jika membutuhkan tiket pesawat. Sekarang hampir semua maskapai penerbangan memiliki mobile application yang memungkinkan kita untuk pesan tiket pesawat sekaligus online check in.

Dalam menghadapi era industri 4.0 saat ini  Menurut pandangan saya segmentasi bisnis B2C (business to customer) sangat cocok untuk memiliki mobile application Karena setiap saat kita berhubungan dengan pelanggan dan menghadapi persaingan yang sangat dinamis. B2B (Business to business) pun juga membutuhkannya jika ingin meningkatkan corporate image. Brand marketer harus jeli melihat kebutuhan perusahaan, jika sebelumnya hanya berfokus pada customer centric, maka sekarang saatnya mengkombinasikan dengan application centric.

Sebagai tambahan, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau dengan populasi Hampir 270 juta jiwa sehingga aplikasi digital adalah sarana yang tepat untuk menjangkau seluruh wilayah di nusantara dengan biaya yang seefisien mungkin.

Ada 3 hal yang harus dilakukan oleh setiap perusahaan/merek agar mobile application nya menjadi pilihan setia pengguna smartphone. Yang pertama adalah added value, atau dengan kata lain dapat memberikan nilai ke semua pelanggan. Added value bisa berbeda-beda tergantung STP + 4P dari masing-masing produk itu sendiri. Contohnya Starbucks, jika pelanggan membayar minuman dengan menggunakan aplikasi STARBUCKS ID, maka akan mendapatkan loyalty poin atau free minuman. Contoh lainnya adalah OVO, jika pelanggan membayar menggunakan OVO maka akan mendapatkan cashback yang bervariasi.

Yang kedua adalah diferensiasi. Untuk mempertahankan loyalitas pelanggan tidak harus selalu dengan promo, namun juga diferensiasi yang tidak dimiliki competitor. Contohnya saat ini adalah bukalapak yang memiliki fitur live TV dan nonton piala dunia 2018 melalui aplikasi.

Ketiga, continuous improvement yang diselaraskan dengan tren yang ada. Kita bisa lihat bagaimana Instagram tanggap melakukan continuous improvement terhadap tren penggunaan Snapchat dengan cara menyajikan fitur Instagram Stories.

Tidak bisa digeneralisasi bahwa semua perusahaan atau merek yang tidak mempunyai mobile application akan gulung tikar karena tergantung dari jenis bisnisnya dan siapa marketnya. Masih ingat di benak kita saat itu bisnis taksi konvensional suffering dengan kehadiran taksi online. Walaupun mobile application bukanlah satu-satunya yang menyebabkan disrupsi tersebut, namun itu adalah salah satu contoh bisnis yang harus mengikuti perkembangan teknologi.

Produk atau brand yang dikonsumsi oleh generasi Z (orang yang lahir pada tahun 1995 – 2010) sudah pasti harus memaksimalkan sektor digital marketing karena menurut penelitian, mayoritas mereka mengakses informasi dari media sosial dan rata-rata menghabiskan 3-5 jam perhari untuk mengakses internet. Kampanye digital marketing bisa berjalan dengan baik saat marketer dapat mengoptimalkan Zero Moment of Truth (ZMOT), yaitu kondisi dimana calon konsumen mulai berselancar di dunia maya untuk mencari referensi sebelumnya akhirnya menentukan pilihan.

Jadi, yang mengetahui apakah perusahaan bisa gulung tikar atau tidak jika tidak memiliki mobile application adalah marketer nya itu sendiri, untuk mengetahuinya bisa dilakukan dengan data, pergerakkan kompetitor, tren market, dan market research.

Apa yang dilakukan pemerintah saat ini sudah cukup tepat. Yaitu dari segi infrastruktur dalam bentuk jaringan fiber optik, proyek Palapa Ring, dan kapasitas bandwith yang diperbesar. Dari segi program, pemerintah sudah memiliki Gerakan Nasional 1000 Startup Digital, ini merupakan ajang inkubator untuk anak bangsa.

Semua pembangunan dan program tersebut akan semakin maksimal jika ditambahkan dengan kesiapan pemerintah terhadap regulasi teknologi, penetrasi digital ke rural area di nusantara, dan penguatan di sisi keamanan. Contoh terkini, filtering yang dilakukan pemerintah terhadap aplikasi TikTok saat ini adalah contoh yang baik.

 


Artikel pernah dimuat di infobrand.id – Ketika Seorang Inovator Mengubah Kendala Menjadi Solusi Di Era Digital

~ oleh fairuzabadizef pada Agustus 26, 2018.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: